Read the English version of this post. / Baca versi bahasa Inggris dari postingan ini.
Kegagalan fasilitas limbah tambang di Meksiko yang baru-baru ini terjadi kembali menggaris-bawahi betapa berbahayanya limbah tambang, atau tailing, bagi para pekerja serta menyoroti pentingnya perlindungan terhadap hak dan keselamatan pekerja di lokasi pertambangan di seluruh dunia.
Kegiatan pertambangan menghasilkan limbah beracun dalam jumlah yang sangat besar dan limbah itu akan tetap ada di area pertambangan tersebut secara permanen. Penyimpanan limbah yang aman sangatlah penting bagi masyarakat di sekitar lokasi tambang dan bagi lingkungan – serta bagi para pekerja yang berada di dalam maupun di sekitar fasilitas penyimpanan tailing. Konsekuensi dari setiap kegagalan bisa berakibat fatal, seperti menimbun manusia dalam lumpur beracun, serta mencemari tanah dan sumber air.
Pekerja terjebak di terowongan di Meksiko
Pada tanggal 25 Maret, kegagalan tailing di tambang Santa Fe di Sinaloa, Meksiko, menyebabkan terowongan bawah tanah dari tambang tersebut tergenang, sehingga para pekerja terjebak di dalam tambang. Pada saat kejadian, sebanyak dua puluh lima pekerja berada di dalam terowongan, dan hanya dua puluh satu dari mereka berhasil diselamatkan dengan cepat.
Dari empat pekerja yang terjebak, satu orang dari antaranya berhasil diselamatkan setelah 100 jam berada di bawah tanah. Satu orang lagi ditemukan dalam keadaan masih hidup setelah 13 hari upaya penyelamatan. Sangat disayangkan, pekerja ketiga ditemukan dalam keadaan meninggal dunia ketika tim penyelamat memasuki minggu kedua proses penggalian, dan meskipun upaya pencarian terus dilakukan, jenazah pekerja keempat belum berhasil ditemukan.
Tambang emas-perak tersebut adalah milik perusahaan pertambangan Meksiko bernama Industrial Minera Sinaloa S.A. de C.V. (IMSSA). Menurut laporan media di Meksiko, genangan air tersebut diduga disebabkan oleh kegagalan lapisan pelindung (liner) pada bendungan tailing, yang mengakibatkan lubang amblas (sinkhole) yang ditengarai menyebabkan “material lumpur merembes masuk ke dalam tambang, yang kemudian memicu proses erosi internal yang merapuhkan struktur terowongan dan menghalangi jalur akses utama.”
Secara tragis, para pekerja seringkali harus menanggung risiko akibat bendungan tailing yang berbahaya.
Ratusan korban meninggal saat jam makan siang di Brasil
Dari 272 orang yang tewas ketika bendungan tailing Brumadinho di Brasil runtuh pada tahun 2019, sebanyak 250 orang merupakan pekerja tambang. Peristiwa tersebut tercatat sebagai kecelakaan industri terburuk dalam sejarah negara tersebut. Perusahaan pertambangan Vale membangun sebuah kantin di bawah bendungan tailing, dan bendungan tersebut runtuh pada jam makan siang, sehingga menimbun para pekerja yang berada tepat di jalur longsoran tailing. Sebuah studi pada tahun 2023 menemukan bahwa tingkat kerusakan fisik pada pekerja tambang adalah 3,4 kali lebih parah dibandingkan korban dari masyarakat sekitar. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa “jumlah korban jiwa lebih besar serta tingkat kerusakan fisik yang juga lebih parah dialami para pekerja dibandingkan penduduk setempat. Hal ini menegaskan betapa besarnya bahaya pekerjaan di industri pertambangan, dan hasil studi ini membantu menjelaskan dinamika bencana tersebut.”
Sejumlah kecelakaan merenggut korban jiwa di Indonesia
Serangkaian kecelakaan industri yang terimbas dari pesatnya pertumbuhan industri pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi para pekerja ketika kegiatan pertambangan berkembang tanpa disertai pertimbangan keselamatan yang memadai. Dari tahun 2015 hingga 2024, produksi tambang nikel tahunan Indonesia meningkat dari 5,7% menjadi 62,2% dari total produksi tambang nikel dunia. Seiring peningkatan tersebut, kegiatan pertambangan ini menghasilkan limbah dalam jumlah yang sangat besar. Tragisnya, lonjakan produksi tersebut juga diwarnai oleh berbagai tragedi.
Di Indonesia Morowali Industrial Park, pengelolaan fasilitas tailing yang tidak memadai telah mengakibatkan sejumlah kematian pekerja. “Tempat pembuangan tailing mengancam kesehatan dan keselamatan pekerja. Bendungan-bendungan tersebut berpotensi runtuh, yang dapat mengakibatkan korban jiwa, pekerja tertimbun lumpur, serta terpapar bahan kimia beracun,” ujar Tesar Anggrian, seorang aktivis dari serikat pekerja yang mewakili pekerja tambang di kawasan industri tersebut, FSPIM-KPBI.
Pada bulan Januari 2025, dua pekerja tertimbun hidup-hidup akibat longsor yang dipicu oleh kegiatan pertambangan; kemudian pada bulan Maret di tahun yang sama, kegagalan tailing kembali menewaskan tiga pekerja. Pada bulan Februari 2026, kegagalan lainnya merenggut nyawa seorang pekerja ketika limbah menimbun alat berat yang sedang dioperasikannya.
Sebuah laporan Earthworks tahun 2026, yang berjudul Tailing yang Difilter di Indonesia: Kegagalan Katastropik dari Sebuah Teknologi Disruptif menyoroti bahaya-bahaya yang mungkin terjadi karena penerapan suatu jenis teknologi penyimpanan limbah di banyak fasilitas nikel baru di Indonesia. Ukuran fasilitas tailing yang sangat besar serta perluasan yang berlangsung sedemikian cepat telah meningkatkan risiko. Curah hujan yang tinggi serta aktivitas gempa di Indonesia juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kegagalan.
Perlindungan bagi pelapor pelanggaran dapat meningkatkan keselamatan semua pihak
Para pekerja sering kali menyadari ketika fasilitas tailing sudah tidak aman lagi. Dalam sebuah wawancara dari rumah sakit, dengan seorang pekerja tambang Meksiko yang berhasil diselamatkan didapatkan keterangan, “Saya sudah lama punya firasat buruk karena posisi bendungan tailing berada tepat di atas tambang, dan saya tahu bendungan itu suatu saat pasti jebol.” Para pekerja tambang di Afrika Selatan juga telah memperingatkan manajemen perihal kondisi bendungan tailing di Jagersfontein yang berbahaya. Peringatan tersebut diabaikan, dan benar saja, bendungan itu runtuh dan menewaskan lima orang.
Standar keselamatan pekerja sudah ada dan harus dipatuhi
Keselamatan pekerja tidak boleh diabaikan demi memenuhi kebutuhan akan mineral dan logam. Perusahaan pertambangan tidak boleh mencari keuntungan sementara mereka mengorbankan keselamatan. Pemerintah daerah maupun nasional bersama dengan perusahaan pertambangan sering mengerahkan sumber daya dan waktu yang sangat besar untuk menyelamatkan pekerja ketika kegagalan terjadi, namun sama pentingnya – bahkan lebih penting – untuk menginvestasikan sumber daya serta waktu dalam upaya menjaga keselamatan pekerja sejak dari awal.
Perusahaan pertambangan perlu mendengarkan dan melibatkan para pekerja, mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi keselamatan mereka, serta menciptakan suatu mekanisme dimana pekerja dapat menyampaikan peringatan jika mereka mengetahui adanya kondisi berbahaya tanpa rasa takut kehilangan pekerjaan. Safety First: Guidelines for Responsible Mine Tailings Management memuat pedoman-pedoman yang dapat diterapkan untuk melindungi pekerja, lingkungan, serta masyarakat dari risiko besar yang ditimbulkan oleh limbah tambang. Pedoman-pedoman tersebut telah didukung oleh serikat pekerja tambang dunia terbesar, yakni IndustriALL Global Union.